
Di era kerja modern, fenomena karyawan memilih resign semakin sering terjadi. Namun menariknya, banyak dari mereka pergi bukan karena tidak mampu bekerja, melainkan karena merasa budaya kerja di perusahaannya tidak sehat.
Resign sering kali dianggap sebagai akibat dari masalah gaji atau persoalan individu. Padahal, di balik keputusan itu, sering tersembunyi masalah yang lebih mendasar: budaya perusahaan yang perlu dievaluasi.
Menjelang bulan Ramadhan, kalimat seperti
“Habis terima THR nanti gue pengen resign”
mulai sering terdengar. Keputusan ini jarang bersifat mendadak. Ia adalah akumulasi dari pengalaman kerja yang dirasakan karyawan setiap hari—cara diperlakukan, cara didengar, dan cara dihargai.
Bagi karyawan, budaya kerja bukan sekadar slogan di dinding kantor. Budaya kerja yang sehat berperan besar dalam:
Menciptakan rasa dihargai
Membangun keterlibatan (engagement)
Menumbuhkan kepercayaan dan loyalitas
Menguatkan rasa kekeluargaan antara karyawan dan perusahaan
Hal-hal inilah yang membuat karyawan mampu bertahan, bahkan di tengah tekanan kerja.
Di KALLA, budaya kerja diwujudkan melalui KALLA WAY—nilai-nilai yang menanamkan semangat kekeluargaan tanpa mengesampingkan profesionalisme. Nilai ini tidak hanya dituliskan, tetapi dijalankan dalam praktik kerja sehari-hari.
Budaya kerja yang sehat membantu membentuk karyawan yang:
Produktif
Jujur
Inovatif
Lebih dari itu, budaya kerja yang baik:
Memengaruhi perilaku dan performa tim
Menekan risiko burnout karyawan
Menjaga stabilitas dan keberlanjutan bisnis
Dengan budaya kerja yang sehat, perusahaan menciptakan alasan yang cukup kuat bagi karyawan untuk bertahan. Sebaliknya, ketika resign terjadi berulang, itu bukan sekadar kebetulan—melainkan pesan penting bahwa ada hal yang perlu segera dievaluasi.
Karena pada akhirnya, karyawan tidak selalu mencari tempat kerja yang sempurna. Mereka hanya ingin tempat kerja yang manusiawi, adil, dan bertumbuh bersama.
